Sejarah MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory)

Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) merupakan salah satu instrumen penilaian kepribadian yang paling banyak diteliti dan digunakan di Amerika Serikat, serta banyak diadaptasi di berbagai negara (Butcher & Cheung, 2003). Disusun pertama kali oleh Starke R. Hathaway, PhD, dan J.C. McKinley, MD, pada akhir tahun 1930-an. Keduanya adalah staf pada University of Minnesota dan karena itu hak cipta instrumen ini ada pada universitas tersebut, seperti diabadikan oleh namanya.
Pada tahun 1972 Butcher dan Dahlstrom mengawali revisi MMPI menjadi MMPI-2 dan penelitian terus berlanjut sampai awal era 1990-an. Awal terciptanya MMPI banyak digunakan sebagai alat kontemporer di bidang psikologi untuk mengukur kesehatan mental dengan didasarkan pada praktek kesehatan secara umum. Selama beberapa dekade dengan beragam penelitian sampai pada MMPI-2 (termasuk MMPI-2 RF atau diistilahkan MMPI-3). Penggunaan MMPI bervariasi dalam mendiagnosa kesehatan mental dengan beragam setting termasuk konteks di luar kesehatan mental, seperti alat seleksi karyawan, program mendeteksi penggunaan alkohol atau obat terlarang.
Secara umum MMPI/MMPI-2 dapat digunakan untuk:
  1. Evaluasi pasien gangguan jiwa untuk membantu status kesehatan mentalnya.
  2. Alat menilai simptom untuk menentukan perawatan yang sesuai.
  3. Alat menilai pasien untuk melakukan perencanaan perawatan.
  4. Evaluasi efek dari perawatan atau terapi.
  5. Alat penelitian epidemilogi menggunakan kriteria kepribadian.
  6. Alat penilai kepribadian untuk posisi publik seperti polisi, tentara, pilot, pemadam kebakaran, calon bupati, gubernur, presiden, pejabat lain dan jabatan-jabatan lain yang penting untuk dilihat kesehatan jiwanya.
  7. Alat penelitian psikologi terutama menentukan perbedaan kriteria kepribadian.
  8. Alat penelitian genetika kepribadian.
  9. Alat penelitian dengan konteks budaya yang berbeda.
  10. Evaluasi kesehatan mental orang tua.
  11. Evaluasi kesehatan mental tersangka (alat forensik kesehatan mental).
  12. dan lain-lain sebagainya.
Artinya bahwa penggunaan Tes MMPI sangat luas pada berbagai setting profesi sesuai kebutuhan. Popularitas MMPI sampai saat ini masih sangat dipercaya, terutama di Indonesia sebagai alat resmi diagnosa gangguan jiwa oleh psikiater dan di bidang psikologi tidak kalah populer alat inventori ini dengan alat-alat tes lain. Kemungkinan besar karena alat ini dianggap hanya untuk mengukur gangguan jiwa dan jumlah item yang dirasa cukup banyak sehingga para psikolog cenderung mengabaikan. Padahal selain penggunaan secara klinis, alat ini dari dulu sudah diakui untuk mengukur fit and proper test oleh psikiater terhadap klien yang akan menduduki jabatan termasuk calon presiden RI yang dilakukan oleh psikiater dari RSPAD. Jadi alat ini tidak selamanya digunakan untuk mendiagnosa gangguan klinis saja namun dapat melihat gambaran untuk kepribadian terutama dinamika psikologis yang terkait dengan aspek kesehatan jiwa secara umum.